Mo kemane kiteee bapak?!
Pertarungan, pertandingan, atau pemilihan, entah apapun namanya, tujuannya sama, yaitu mencari seorang atau tim (team) pemenang, yang layak dinobatkan menyandang gelar juara, atau kepala desa, atau gubernur atau presiden. Cara pertarungan atau pertandingan atau pemilihan itu bebeda, tetapi akibat yang ditimbulkan di negeri tercinta sering sama, yaitu, tawuran (salah satu turunan paham anarkisme?).
Bosan mendengar, membaca dan menonton tawuran diberbagai media massa, seolah negeri ini adalah negeri barbar atau negeri tidak berpendidikan atau negeri yang penuh uncivilized people. Yang mengherankan penyebab tawuran itu “sangat sederhana”, bisa karena tidak menerima keputusan pemerintah, bisa karena tidak memerima keputusan panitia pemilihan, bisa karena tuduhan main curang, atau bisa karena tuduhan wasit berat sebelah. Tiba-tiba saja, stadion rusak, rumah hangus, mobil terbakar, pagar rusak, ada orang cedera bahkan tewas, mo kemane kiteee bapak?!.
Tanaman atribut ketakutan sering disuburkan, banyak orang memakai baju loreng-loreng, satpam, hansip, mahasiswa, pemuda dan polisi seperti aktor dalam film-film cowboy, dan banyak lagi. Mereka memakai atribut kebanggaan yang menakutkan. mo kemane kiteee bapak?!
Biaya pendidikan mahal, mulai TK, SD sampai Universitas, tetapi banyak peminatnya, penduduk negeri ternyata banyak yang kaya. Lalu, dengan jumlah yang lebih banyak, anak rakyat miskin putus sekolah, menganggur, jadi pembantu, sopir atau buruh di negeri ini atau pergi ke negeri jiran jadi pahlawan devisa. mo kemane kiteee bapak?!
_____________________
dari Bisik-bisik: Mo kemane kiteee bapak?! mo kemane mereka, iya kan?! Negeri tercinta makin jauh ketinggalan dari negeri tetangga, begitu maksudnya kan?!, Saatnya pendidikan diprioritaskan dan gratis, iya kan?!
Fail to Plan, Plan to Fail, Listrik Padam, Harga Naik
“Sedia payung sebelum hujan” nasehat orangtua dan guru kepada kita. “Sesuatu yang mungkin terjadi pasti terjadi”, kata Murphy yang terkenal itu.
Entah apa yang terjadi sepanjang hari Senin itu, semua serba salah sejak subuh pagi, bebannya terasa berat. “Itulah, kamu sejak jumat sore saya sudah ingatkan” kata istrinya nyerocos tak henti henti, “kamu bilang besok saja, itu cuma sebentar, lalu sebentarnya manaaaa?!”.
Sementara omelan istrinya masih terngiang, hanya karena soal sepele, entah mengapa dia lupa memperbaiki kunci pintu rumahnya. Tiba-tiba!, pintu kamar kerjanya terbuka “Sudah kuperintahkan kamu supaya lembur, menyelesaikan pekerjaan ini, sekarang kamu mau bilang apa lagi, saya sudah diminta pak Direktur, agar dipresentasikan kepada mitra kerja kita, pagi ini juga!”. terdengar teguran keras dari bosnya.
Aduuh!!, sial benar, bahkan memalukan. Semuanya pekerjaan mudah, gagal semuanya. Bayangan pekerjaan itu berputar-putar dalam benaknya. Tidak ada maaf, yang ada hanya penyesalan dan pengakuan atas kegagalan karena kelalaiannya. Pengakuan atas kegagalan merencanakan, samadengan merencanakan kegagalan, pikirnya. Tidak akan terulang lagi, akan kuperbaiki sikapku, lanjutnya dalam hati.
Dampak kegagalannya sungguh luar biasa, istrinya terpaksa tinggal dirumah, tidak pergi ke tempat kerjanya di pabrik, sementara tiga orang anaknya semua pergi kesekolah, salah seorang diantaranya akan masuk keperguruan tinggi tahun ini. Kantornya kehilangan kesempatan, gagal mencapai perjanjian kerja sama dengan mitranya.
Sorenya, setiba di rumah, “sudah kamu beli lilinnya?!” tanya istrinya dengan suara meninggi. “Sebentar ma!, saya akan beli ke warung seberang jalan sana”, dia menghilang dengan cepat. Lagi…lagi…, dia lupa, hari itu daerah mereka kebagian pemadaman listrik. Sial benar hari ini!, semoga lilinnya belum habis, kalau habis saya terpaksa pergi ke supermarket, dengan jarak tempuh pergi pulang dua jam dan sudah gelap, katanya dalam hati, sambil melangkah dengan cepat. Tadi, dia bahkan belum sempat melangkahkan kakinya dipintu rumahnya.
“Hei…, bung minggir”, seru kondektur bus, dia hampir keserempet. Dia jalan cepat cepat, sambil terbawa dalam berbagai macam kejadian yang dihadapinya tiap hari. Harga bahan pokok termasuk minyak, gas dan biaya pendidikan makin mahal karena gajinya kecil, jalan-jalan penuh lobang, macet, penumpang angkutan kota berhimpit himpitan, copet, pengendara motor, pak ogah dan lain sebagainya yang bukan urusannya muncul dan berlarian di benaknya. Biang keladi alias penyebab yang diberikan penguasa negeri, sungguh dia tidak mengerti. Yang terjadi adalah, semuanya seolah menjadi beban hidupnya.
Hmmm…Fail to plan, Plan to fail… jangan jangan itu yang terjadi pikirnya, dia telah lupa, tadi nyawanya hampir melayang diterbangkan bus. Cuma, siapa yang menyesal, siapa yang mengaku lalai dan gagal?! kalau tidak ada siapa siapa, berarti tidak ada yang perlu diperbaiki, toh…, ternyata tidak ada yang salah, dia berdialog terus dengan dirinya, sambil berjalan menenteng lilin yang akan dinyalakan untuk menerangi kegelapan malam di rumah dengan keluarga tercinta.
_________________________
dari Bisik-bisik: Kita tersandung dan jatuh karena kerikil bukan karena batu besar, iya kan?! Dengan menyusun rencana yang baik pasti menghasilkan yang baik, begitu maksudnya kan?!
Orang Bijak dan Petani, Kepala Bandit dan Anakbuahnya
“Bagus panenmu” seru si kakek, yang duduk seharian di bawah pohon rindang di pinggir sawah, kepada seorang petani yang baru saja tiba disitu. “Iya kek, begitulah”, katanya pelan sambil menarik keledainya ke tepi saluran irigasi, rumput masih tumbuh subur dipinggirnya. Lalu dia duduk pada permukaan yang tidak rata, di atas satusatunya batu besar yang ada di situ, melawan dan mengobati rasa penatnya dengan tarikan napas panjang.
Dia kenal kakek itu, semua orang desa kenal, pemikir, suka membantu, terutama dalam menimbang dan menyelesaikan segala masalah. Hasilnya nyata, dapat dirasakan, menyejukkan dan tidak ternilai.
“Keledaimu menderita kulihat, apa isi karung itu?” tanya si kakek, sambil menunjuk dua karung di kiri-kanan punggung keledai. ”Yang satu pasir, yang satu lagi isinya padi, agar seimbang” sahut si petani.
Lalu si kakek bilang, ”pasirnya buang saja, padinya bagi dua, isi ke masing-masing karung, lebih ringan”. Dan, si petani pun melakukannya.
“Terima kasih kek, dan mohon pamit”
“Kakek belum ingin pulang?”
“Tempatku disini”
” Kakek makan apa nanti?!”
“Itulah masalahnya, sedang kupikir”.
Seorang kepala bandit, marah besar kepada anakbuahnya. Saat itu mereka sedang membagi jarahannya. “Mengapa kau tangkap”, teriaknya sambil melotot. “Saya kan bisa mengelak!” lanjutnya. Si anakbuah diam saja, dia mengerti karakter bosnya yang sok jago. Dia baru saja menangkap batu yang mengarah ke kepala bosnya. Lemparan batu dari seterunya sesama bandit. Mereka rebutan lahan jarahan.
Jiiing…., sebuah batu mendesing tipis diatas kepala sang bos. “Mengapa tidak kau tangkap!, kamu biarkan aku dilukai orang hah?” “tugasmu kan mengawal aku!” dan si anakbuah tetap diam saja. Dia iba pada bosnya, yang memang tidak mengetahui situasi medan laga.
Bayangan si kakek, melekat dalam benak si petani. Dia cocok jadi tumenggung, pikirnya. Mereka, dia dan keledainya, melangkah cepat menuju rumahnya. Hmm….tetapi dia tak berdaya, makan untuk hidupnya saja tidak ada dan tidak pasti, si petani bergumam sendiri, ahh…biarlah dia jadi pemikir. Keledainya mengembik…mengibaskan ekornya, ia mencium bau kandangnya, mereka tiba.
Dasar kepala bandit, pikir anakbuahnya, dia tidak mengerti apa-apa, ngomong suka-suka, ditangkap polisi baru tau dia, gumamnya…aku mau keluar saja..dan tidak mau ikut dia lagi…sambil melangkah cepat menuju rumahnya.
__________________________
dari Bisik-bisik: Dari obrolan dengan teman karibku, antara hidup mandiri atau pegawai. Lebih baik hidup mandiri seperti petani, iya kan?! Anakbuah kepala bandit, bandit juga…..iya kan?!
Canda, Janji dan Teriakan, Tragis!!!
“Harimau, harimau” teriakan gembala kerbau itu bergema di lereng gunung, dekat dengan kebun dan ladang desa. Lalu semua orang yang mendengar, datang berlarian membawa pacul dan parang atau apa saja yang ada, untuk membantu gembala itu. “Mana harimaunya?!” tanya semua orang, melihat si gembala duduk di punggung kerbaunya sambil tertawa tawa, “sudah lari” sahutnya enteng. Lalu mereka pulang dengan kecewa.
Tidak lama kemudian diulanginya lagi, “harimau, harimau” teriaknya. Lagi-lagi, semua orang yang mendengar datang. “Mana harimaunya?!” seru mereka, “tidak ada!” sahutnya enteng sambil terkekeh-kekeh.
Beberapa saat kemudian, si gembala berteriak lagi “harimau, harimau, hariiimaaauuu” dengan teriakan yang lebih keras dan bunyi suara yang bergetar dan ketakutan, tetapi tidak ada orang yang datang, meski mereka dengar jeritan itu, dan si gembala diterkam dan hilang tidak tentu rimbanya. Tragis!!!. ( Ingatan, dari buku bacaanku ketika SD).
“Pilih aku!!”, “kalau saya terpilih jadi tumenggung, kalian akan kuberi pakayan yang bagus, kuberi pekerjaan di sawahku, kuberi upah yang besar, biaya sekolah nol” bunyi teriakan kampanye di alun-alun. Orang pun berduyun-duyun datang mendengarkannya, menelan air liur masa lima tahun ke depan. “Hebat, calon tumenggung itu, akan kupilih dia” mereka ngobrol ketika pulang bersama-sama dengan muka berseri-seri. Tak lama kemudian setelah terpilih, “Mana pekerjaanku, mana biaya sekolah nol, mana upahku atas pekerjaanku?!”, teriak masyarakat. “Kita lagi krisis, mohon maklum” sahut Tumenggung dengan enteng. Tragis!!!
Canda dan janji memang berbeda bahkan bertolak belakang sama sekali. Dua-duanya sering diobral, baik oleh tukang canda baik oleh tukang janji, hasilnya membuat orang kecewa. Kecewa yang tidak terlukiskan dan tidak teruraikan dengan kata-kata.
Orangtua kita selalu bilang hati-hati kalau becanda, karena sering mengundang bahaya, dan jangan mengumbar janji, nanti tidak kamu tepati. Canda dan janji sering memberi hasil pahit.
_________________________
dari Bisik-bisik: Memang lidah tak bertulang, bunyi salah satu bait lagu lama, iya kan?!
Angan-angan Tukang Cendol
“Visi”. Saya menerjemahkannya “angan-angan” atau “cita-cita, keinginan masa depan”. Semua orang punya visi. Ketika kita masih anak-anak, sering ditanya orangtua, paman atau guru ”suatu saat ingin jadi apa?!”, dan kita menyatakannya dengan keluguan, ditambah rasa malu dan rasa yang lain yang sulit dituliskan dalam kata-kata, tergantung dari karakter kita, pemalu, pemberani dan sebagainya. Lalu mereka memberi kita semangat “Rajin belajar, hormat kepada orang tua, guru dan temanmu”. Ada “Misi” , ada tugas yang harus dilaksanakan, untuk membuat angan-angan menjadi kenyataan.
Tetapi, “Misi tidak boleh diangan-angankan menjadi lamunan atau mimpi, berbahaya!!”, kata pak guru ketika saya masih SD, dan hal ini bahkan diilustrasikan dalam buku bacaan, yaitu “Angan-angan Tukang Cendol”. Tukang cendol ini, berjualan di halaman suatu sekolah SD. Anak-anak sangat menyukainya, harga terjangkau dan hmm.. enak, cendolnya dengan cepat habis ludes.
Suatu hari seperti biasa, si tukang cendol datang bersama anaknya yang belum sekolah. Sambil menyiapkan peralatannya, mangkok, sendok dan lain-lain yang berhubungan dengan itu, dia berdialog dengan anaknya.
“Nak, setelah cendol kita laku, uangnya kita pakai untuk membeli anak ayam betina”,
setelah itu lanjutnya ” kita pelihara sampai ayamnya bertelor dan beranak”,
dan ” kalau semuanya sudah besar kita jual dan kita beli anak kambing”,
kemudian “kalau kambingnya sudah besar kita jual, dan kita beli anak sapi”,
lalu “kalau sapinya sudah besar kita jual, dan kita beli anak kerbau betina”,
kerbau adalah ternak yang paling tinggi di kampung kami.
Lalu anaknya menanggapi ayahnya,
“Kalau kerbaunya besar dan beranak, maka anaknya kutunggangi”
“jangan!!” kata ayahnya. “akan kutunggangi seperti temanku tetangga kita yang menunggangi anak kerbaunya”
“jangan!!” kata ayahnya mulai marah, ”akan kutunggangi” kata anaknya sambil menjauh menjaga jarak dari ayahnya.
”jangan”, ayahnya mulai berdiri. “akan kutunggangi” anaknya makin menjauh lagi,
”jangan!!” ayahnya melangkah sambil marah, mau menangkap anaknya. Biyur… cendolnya tumpah kesandung kakinya, bersamaan dengan itu, kriiiing bunyi bell tanda reses, anak-anak berhamburan dari kelas dan berlarian, berlomba siapa yang pertama beli cendol, mereka kecewa cendol yang enak tidak ada hari itu.
Akankah negeri ini tukang cendol?!. Visi negeri tercinta sangat banyak, penuh angan-angan dan penuh janji, harapan kita, semoga, misinya tidak diangan-angankan sehingga negeri kita dapat mencapai cita-citanya.
_______________________
dari Bisik-bisik: Negeriku mudah-mudahan tidak memukuli anak-anaknya, iya kan?! mahasiswa yang ditahan supaya dibebaskan begitu maksudnya kan?!.
Listrik Padam di Jawa-Bali, Alasan dan Pernyataan Aneh
Jawa-Bali ternyata mengalami pemadaman bergilir juga, karena defisit sebesar 800 sd 900 MW. “Pemadaman listrik disebabkan aneka hal, antara lain penurunan daya disejumlah pembangkit PLN dan swasta, kenaikan beban pemakaian listrik di Jawa-Bali, serta ketidak lancaran pasokan BBM ke pembangkit PLN” kata salah seorang jajaran Direksi PLN. Lalu seorang yang lain lagi, juga dari jajaran Direksi PLN, menyatakan “Dengan pertumbuhan daya di atas 6 persen, cadangan daya tergerus menjadi 25 persen dari batas yang seharusnya 40 persen”.
Pernyataan yang membingungkan (saya), karena bilangan dasarnya tidak ada. Tampaknya jajaran Direksi PLN (sengaja) bingung dengan menyatakan alasan yang amburadul yang membingungkan, seolah membela diri meski belum mendapat serangan, ibarat jago silat yang berjalan di tengah hutan, mendengar suara kelebat, lalu pasang kuda-kuda, padahal suara itu adalah kepakan sayap burung yang tiba tiba terbang, karena kaget atas kehadiran si jago silat itu. Angka 800-900 MW dan 40 persen dari mana?.
Pernyataan aneh selanjutnya “pemadaman tiba-tiba bisa terjadi karena beban puncak lebih besar dari yang diperkirakan”. Aneh!!!, karena, pemadaman tiba-tiba selalu disebabkan oleh gangguan yang tiba-tiba bukan karena salah perkiraan.
Lebih Aneh lagi pernyataan ini, “Rata-rata pertumbuhan pemakaian listrik pada kuartal I-2008 mencapai 6.8 persen sementara target pertumbuhan pada APBN perubahan 2008 hanya 1,9 persen”, kita tidak tahu siapa yang aneh karena direksi PLN adalah wakil pemerintah mengatur PLN. Perlu diketahui, bahwa pada sistem tenaga listrik, di mana pun, selalu ada“Natural Growth” . Di Jawa-Bali, natural growth lebih besar dari 1.9 persen. Artinya tanpa sambungan atau langganan baru, kebutuhan listrik itu tetap bertambah, sebesar lebih dari 1.9 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Natural Growth” adalah pertumbuhan konsumsi listrik langganan tersambung. Misalnya, karena anak dalam satu keluarga beranjak dewasa, sehingga pindah kamar dan menggunakan lampu listrik, ganti TV, pasang pompa air yang tadinya tidak ada atau ganti pompa air yang lebih besar kapasitasnya, pasang AC dan lain-lain.
Tampaknya, makin banyak orang aneh di negeriku tercinta ini.
_________________
dari Bisik-bisik: Aneh itu menjadi normal, dan normal itu menjadi aneh, “bingung” iya kan?!, lebih baik diam begitu maksudnya kan?!
Negeri Miskin Yang Boros
“Hemat pangkal kaya”, kata orangtua dulu. Menurutku, kredo ini hanya berlaku bagi orang yang memang bisa menghemat. Rakyat negeri ini dari 200 juta penduduk, mungkin hanya segelintir yang dapat menghemat, sebagian besar dari mereka tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk asap dapur sudah berutang, ”mereka mau menghemat apa?!”. Mereka tidak bisa atau tidak mampu berhemat, mereka tidak dapat dicegah berutang, karena anak istri sedang menunggu makanan dengan penuh harap.
“Boros pangkal miskin”, sambungan dari kredo tadi. Negeri ini memang boros disegala hal. Sungguh!, rakyat negeri ini meski miskin, tetapi terpaksa boros bukan main. Salah satu contoh, seperti kehidupan di kota kejam JaBoTaBekDep. Di banyak tempat, untuk menempuh perjalanan sepanjang 5 km saja, memerlukan waktu rata-rata setengah jam bahkan satu jam, itupun setelah kita diguncang-guncang dalam kendaraan, di sepanjang jalan berlubang tidak karuan. BBM kendaraan boros, waktu terbuang, dan ongkos perawatan mobil tinggi dan pengobatan (manusia) membengkak, karena stress dan patah pinggang. Negeri ini boros untuk sesuatu hal yang dapat dicegah. Negeri ini makin miskin.
Kalau para penguasa negeri ini mau “boros yang dapat dicegah”, itu sebenarnya dapat dilakukan. Namun, mereka gamang, seolah berjalan di atas kawat, di ketinggian. Malah mengajak rakyat berhemat. Seolah rakyatlah sebab musabab atau akar kesalahan kemiskinan. Mengapa?!, karena para penguasa negeri, tidak pernah lapar, tidak merasakan goncangan jalan berlubang, mereka tidak merasakan air liur yang pahit, sambil menahan makian dari sesama, ketika saling serobot dijalanan tiap hari.
Maka, para penguasa tidak berbuat apa-apa, selain dari merencanakan kenaikan harga. Minyak, tol dan lain lain. Hasilnya rakyat tidak tau, selain dari boros terpaksa terus berlanjut. Kemudian, mereka hanya mendengar berita atau membaca di surat kabar, KPK dan polisi sedang beraksi menambah jumlah penduduk di lembaga pemasyarakatan alias penjara, Negeriku.. negeriku.. negeri yang kaya tapi miskin.
Sebenarnya, rakyat negeriku tidak butuh penduduk penjara bertambah, rakyat negeriku ingin kenyamanan sederhana sehingga dapat berhemat, yang dapat diciptakan dan dilaksanakan dengan baik, asal penguasa negeri mau.
______________________
dari Bisik-bisik: Penguasa negeri ini kan makin bijaksana, iya kan pak?!
Sudut Pandang Dan Guru
Sudut pandang yang berbeda dari suatu obyek, sangat disukai dan selalu dikerjakan oleh arsitek, juga juru-foto atau fotografer , baik kelas amatir ataupun professional. Hasilnya diberitahu kepada kita, mana yang bagus dan indah dan sebaliknya. Mereka kerja keras untuk mendapat hasil itu, mereka kerja keras meyakinkan kita. Kalau kita tidak suka, mereka bertanya, dan memosisikan dirinya dari sudut pandang kita sendiri, demi kepuasan bersama. mereka satu sama lain menjadi guru.
Di negeri tercinta, sudut pandang yang berbeda tentang suatu hal, juga sering terjadi. Antara pemerintah dengan rakyat, antara partai, antara masyarakat, bahkan antara mereka sendiri. Bisa menjadi persoalan antara satu sama lain. Biasanya, persoalan itu pun kadang-kadang tumbuh dengan hiruk pikuk, sambil menyatakan “saya paling benar”, ibarat kumpulan anak kecil, yang berasal dari lokasi atau penjuru yang berbeda dari lereng-lereng sebuah gunung. Mereka berkumpul berdebat tentang bentuknya. Yang satu mengatakan, “bentuknya seperti, kerucut dan curam” yang lainnya membantah, menyatakan “bentuknya seperti, batok kelapa tetapi landai” mereka semua benar. Lalu guru datang, memosisikan dirinya dan menjelaskannya, kemudian mereka mengerti. Di negeri tercintapun guru sangat banyak.
Guru, dapat menjelaskan sesuatu obyek dari sudut pandang yang berbeda, berguna bagi kita, dan kita mengerti, sang guru memang harus pintar dan tegas berwibawa. Ada juga guru yang pintar tetapi tidak bisa menjelaskan dan memosisikan dirinya. Lalu, kalau murid tidak mengerti, sang guru malah marah, apalagi kalau ada diantara mereka yang mengantuk, makin besar marahnya, sampai semua murid ketakutan untuk sesuatu yang mereka tidak mengerti. Dengan muka merah padam, “kalian kalau mengantuk, jangan datang kesekolah, orangtua kalian sudah capek bekerja, untuk menyekolahkanmu!”. Bah…buruk muka cermin dibelah.
“Don’t loose your audience“, “buat mereka menyimak”, kata guru mengingatkan kita, ketika kita akan menjelaskan sesuatu, apalagi yang kita jelaskan adalah, sesuatu yang pasti dari sudut pandang kita. Meski susah karena sifat, karakter dan budaya orang berbeda-beda, tetapi kita tetap bisa menjadi satu pandang, “Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa”, kata pemuda-pemudi kita tahun1928, “Bhineka Tunggal Ika” kata Gajah Mada, mereka adalah guru yang baik. Pantang menyerah ujar guru kepada muridnya, belajar, maju dan raih ilmu setinggi tinginya, buat semua orang bahagia, orangtuamu, saudaramu, temanmu dan negerimu tercinta.
_______________
Dari bisik-bisik: berbeda sudut pandangkan indah dan berdinamika, iya kan!, tinggal bagaimana kita menerima, dan mengertinya begitu kan?!
Derap Langkah Dan Demokrasi
Derap langkah, serempak dalam satu barisan, tentunya menghasilkan kepuasan pada semua pihak, baik pelaku, penonton apalagi pemimpin barisannya. Berjalan dengan pasti ke tujuan yang telah ditentukan, kiri kanan, kiri kanan. Demokrasi, menurut saya adalah cermin bagi derap langkah kita, mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan menghormati semua pihak, hasilnya ialah, aman, senang dan bahagia untuk semua orang. Semua orang berhak mendapat hasil itu.
”In the name of democracy” kata presiden John Fitzgerald Kennedy yang terkenal itu, juga ”And so, my fellow Americans: ask not what your country can do for you-ask what you can do for your country“, satukan barisan, satukan langkah. “I have a dream” seru Martin Luther King, Jr, “Berdiri diatas kaki sendiri” ujar Sukarno, presiden pertama republik Indonesia, “Melompat jauh ke depan“ ajak Mao pada rakyatnya di negeri Cina, semua dalam nama “demokrasi model mereka” menyatukan derap langkah untuk mencapai tujuan secara bersama. Tujuannya jelas!, dilaksanakan dan dinyatakan dengan serempak.
Saat ini, di negeri tercinta, gaung demokrasi bergema sangat hebat. Saking hebatnya, gemanya hilir mudik bersahut sahutan, semua orang berkata “demi demokrasi” mendirikan partai, semua ingin jadi pemimpin termasuk aktor dan artis, beberapa diantara mereka berhasil. Sayang, kompetensi hampir tidak berlaku. Demi demokrasi, “apa untukku” seolah itu yang terjadi. Sementara itu, bagi yang tidak bisa berteriak, dengan berbagai alasan dan sebab, hanya bisa menonton atau membawa bendera saja, hidup…, hidup…. lalu kembali dengan airliur yang pahit.
Kita boleh berdagang, dimanapun asal ada tempat, di tepi jalan yang semrawut, di garasi rumah, atau di depan kantor, kita boleh jadi supir angkutan kota, berhenti disebarang tempat menunggu penumpang, kita boleh menggali pinggir jalan untuk proyek tertentu, kemudian menimbun dengan asal-asalan, bahkan kita boleh berkoar-koar untuk hak tertentu, namun tampaknya semua ini bukan demi demokrasi. Untuk asap dapur, asap yang tidak menganggu dalam realitanya.
“Fajar menyingsing hari mulai terang, burung bersiul girang terbang terbang, bangunlah bangunlah, bangunlah hai teman, marilah keluarlah, ikutlah genderang…” bunyi salah satu bait lagu, yang kami nyanyikan setiap pagi ketika SMP, belajar dengan semangat, satu derap, hormat kepada guru demi ilmu, demi masa depan, demi tujuan (demokrasi, defenisi saya) yang teratur dan berbudi pekerti, dan “tabu mengganggu”.
Demi demokrasi, mari kita satu derap langkah, biarlah kita berdampingan, biarlah kita bebas berbicara, biarlah kita bebas bekerja, dengan damai, aman tujuan kita bersama.
Mimpi Rel-Ganda Kereta Api di Indonesia.
Meski hanya angan-angan, saya langsung menyetujui mimpi teman saya, yang berencana membangun rel-ganda kereta api, dari Sabang sampai ke Merauke. Temanku ini selalu memberi contoh rangkaian kereta di Eropa dan Amerika. Konon, sejak awal mereka membangun rangkaian kereta api, sebagai salah satu prioritas dan telah terbukti!!. Prioritas negeriku, adalah membuat mobil dan “jalan-jalan yang berlubang serta jalan tol yang macet”, sudah terbukti pula!!. Hidup, industriawan mobil!!! Hidup, jasa marga!!!
Sesuai mimpinya, lalu saya bayangkan orang kampungku, dengan mudah membawa hasil buminya. Saya bayangkan orang kampungku, pergi pulang dari satu tempat ke tempat lainnya dapat dalam waktu yang tepat. Dan, di kota, saya bayangkan, semua kegiatan, dapat diatur dengan baik.
Jakarta dengan penduduk lebih dari 12 juta orang. Kemudian, Medan, Bandung, Jogyakarta, Surabaya dan Ujung Pandang juga sudah dijejali penduduk. Kesibukan menjadi jantung kota, menggerakkan orang kesegala penjuru. Angkuatan kota semrawut, macet dimana-mana. Hasilnya?!, banyak orang lelah, stress, menjadi tidak sabaran, pemarah, egois dan saling serobot. Evolusi peradaban sedang berlangsung!!!. pelan pelan, kembali ke jaman purba dalam bentuk lain.
Dahulu sudah ada kereta api dari Kutaraja (Banda Aceh) ke Medan, sekarang hilang. Di Jakarta rel kereta ke stasiun Tanjung Priok hilang atau tidak berfungsi. Pembangunan mono-rel? jangan tanya!, tiangnya saja yang ada, dan menjadi salah satu penyebab kemacetan. Jakarta Transport dan bus-waynya? aneh! membeli minyaknya saja tidak mampu.
Mudah-mudahan temanku ini, suatu saat menjadi presiden. Semoga pula dia seorang presiden yang kuat dan berwibawa nan bijaksana, sehingga dapat melaksanakan mimpinya, seperti Gorbachev menyatakan Glasnot dan Prestroika.
_____________
dari Bisik-bisik: Negeri ini kan perlu lapangan kerja,…….. iya kan?